Yogyakarta selalu memiliki pilihan wisata yang menarik untuk dijelajahi. Tidak hanya kawasan Malioboro, pantai-pantai di Gunungkidul, atau wisata budaya di pusat kota, Sleman juga menyimpan sejumlah destinasi alam yang menawarkan suasana berbeda. Salah satunya adalah Grojogan Watu Purbo, air terjun bertingkat yang berada di Dusun Bangunrejo, Kalurahan Merdikorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman.
Sekilas, Grojogan Watu Purbo terlihat seperti air terjun alami dengan beberapa undakan yang dialiri air. Namun, destinasi ini mempunyai cerita yang berbeda. Enam tingkat grojogan yang menjadi daya tarik utamanya sebenarnya berasal dari bangunan sabo dam yang dibuat untuk mengendalikan aliran lahar Gunung Merapi.
Perpaduan antara fungsi pengendalian bencana, aliran sungai, bebatuan besar, dan lanskap pedesaan membuat Grojogan Watu Purbo menjadi destinasi yang cukup unik. Tempat ini juga cocok dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati alam tanpa harus melakukan perjalanan trekking yang terlalu berat. Putera Mentari Rent Car mengajak Anda berkunjung ke wisata viral Jogja yang satu ini.
Asal Usul Grojogan Watu Purbo
Grojogan Watu Purbo bukanlah air terjun alami yang terbentuk secara keseluruhan oleh proses alam. Kawasan ini awalnya merupakan bagian dari sistem pengendalian aliran lahar Gunung Merapi.
Bangunan berupa enam undakan atau trap tersebut dibuat sekitar tahun 1975 sebagai sabo dam. Fungsinya adalah mengendalikan aliran material vulkanik dan lahar dingin yang dapat mengalir melalui sungai ketika Gunung Merapi mengalami erupsi. Aliran tersebut berkaitan dengan Sungai Krasak dan Sungai Bebeng yang berhulu di kawasan Merapi.
Keberadaan enam undakan inilah yang kemudian menghasilkan pemandangan seperti air terjun bertingkat. Ketika aliran air cukup besar, air tampak jatuh dari satu tingkat ke tingkat berikutnya sehingga membentuk tirai putih yang memanjang.
Nama “Watu Purbo” juga berkaitan dengan keberadaan batu-batu besar di sekitar grojogan. Masyarakat setempat menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan batu-batu tua yang berada di sisi aliran air. Meski demikian, asal dan usia pasti batu-batu tersebut tidak diketahui secara pasti.
Pada awalnya kawasan tersebut bukan merupakan destinasi wisata. Potensinya kemudian mulai dilihat masyarakat sekitar. Pada 2017, kawasan ini mulai dikelola sebagai tempat wisata oleh masyarakat dan Pokdarwis Bangunrejo. Popularitasnya semakin meningkat hingga akhirnya ramai diperbincangkan di media sosial sekitar akhir 2019 hingga awal 2020.
Perubahan fungsi tersebut menjadi contoh menarik bagaimana sebuah infrastruktur pengendalian bencana dapat berkembang menjadi ruang wisata tanpa kehilangan cerita sejarahnya.
Apa Yang Menarik Dari Grojogan Watu Purbo?
Daya tarik utama tentu saja enam tingkatan air yang menjadi ciri khas Grojogan Watu Purbo. Tidak seperti kebanyakan air terjun yang memiliki satu titik jatuhan utama, di sini pengunjung dapat melihat air mengalir melewati beberapa undakan.
Ketika debit air sedang besar, pemandangannya terlihat semakin menarik. Air yang turun secara berurutan dari tingkat atas ke bawah menciptakan pola seperti tirai. Dari sisi tertentu, seluruh undakan dapat terlihat sekaligus sehingga menjadi salah satu spot fotografi yang populer.
Keunikan lainnya adalah latar Gunung Merapi. Pada cuaca cerah, kawasan sekitar grojogan dapat memberikan panorama pegunungan yang memperkuat suasana alami. Dinas Pariwisata DIY juga mencatat pemandangan Merapi sebagai salah satu daya tarik kawasan ini.
Bebatuan besar di sekitar sungai juga menambah karakter tempat. Batu-batu tersebut membuat kawasan terasa lebih alami meskipun bentuk grojogannya sendiri merupakan hasil dari konstruksi sabo dam.
Bagi penggemar fotografi, Grojogan Watu Purbo menawarkan banyak kemungkinan sudut pengambilan gambar. Pengunjung dapat memotret grojogan dari bagian bawah, sisi samping, maupun dari area yang lebih tinggi. Pemandangan air bertingkat akan terlihat semakin dramatis ketika debit air cukup besar.
Selain fotografi, pengunjung dapat menikmati suasana sekitar, duduk di gazebo, menikmati taman, atau sekadar mendengarkan suara air. Karena lokasinya berada di kawasan pedesaan, suasana di sekitar destinasi terasa lebih tenang dibandingkan kawasan wisata perkotaan.
Fasilitas Yang Tersedia
Sebagai destinasi yang dikelola masyarakat, fasilitas Grojogan Watu Purbo telah berkembang untuk mendukung kenyamanan pengunjung. Beberapa fasilitas yang tersedia antara lain area parkir, toilet, gazebo, taman bunga, tempat ibadah, serta area untuk beristirahat.
Terdapat pula warung atau tempat makan yang dikelola masyarakat sekitar. Kehadiran fasilitas tersebut cukup membantu wisatawan yang ingin beristirahat setelah menikmati kawasan grojogan.
Akses menuju lokasi juga relatif mudah. Berbeda dengan beberapa air terjun di Yogyakarta yang mengharuskan wisatawan melakukan trekking panjang, Grojogan Watu Purbo dapat dijangkau kendaraan hingga kawasan wisata dengan akses jalan yang sudah cukup baik.
Rute Menuju Grojogan Watu Purbo
Grojogan Watu Purbo berada di Bangunrejo, Merdikorejo, Tempel, Sleman. Lokasi ini berada di sisi utara Yogyakarta dan cukup mudah dijangkau melalui Jalan Magelang.
Jika berangkat dari pusat Kota Yogyakarta, arahkan perjalanan menuju Jalan Magelang ke arah utara. Perjalanan kemudian dilanjutkan melewati kawasan Sleman menuju Tempel. Sesampainya di kawasan lampu merah Tempel atau sekitar Monumen Palagan Palbapang Tempel, perjalanan diteruskan menuju Jalan Tempel dan mengikuti petunjuk menuju Merdikorejo.
Dari kawasan Merdikorejo, wisatawan dapat mengikuti papan petunjuk menuju Dusun Bangunrejo dan Grojogan Watu Purbo. Jalur menuju lokasi relatif mudah untuk kendaraan pribadi. Rute dari pusat Kota Yogyakarta umumnya dapat ditempuh sekitar 40 menit dalam kondisi lalu lintas normal, meskipun waktu perjalanan dapat berubah tergantung kepadatan lalu lintas.
Jika menggunakan kendaraan dari luar kota, perjalanan dapat direncanakan melalui jaringan jalan utama menuju Yogyakarta kemudian mengambil arah Jalan Magelang. Wisatawan dari Surabaya yang melakukan perjalanan darat dapat menggunakan jalur tol Trans-Jawa menuju Jawa Tengah, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dan Sleman.
Karena perjalanan Surabaya–Yogyakarta cukup panjang, sebaiknya jangan menjadikan Grojogan Watu Purbo sebagai satu-satunya tujuan. Buatlah perjalanan dalam bentuk rute wisata beberapa destinasi agar waktu perjalanan lebih efektif.
Wisata Lain Yang Searah Dan Dekat
Salah satu kelebihan Grojogan Watu Purbo adalah lokasinya yang dapat dikombinasikan dengan sejumlah destinasi lain di kawasan Sleman.
Setelah berkunjung ke grojogan, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke kawasan Kaliurang. Salah satu pilihan adalah Museum Ullen Sentalu, museum yang terkenal dengan koleksi dan narasi mengenai sejarah serta budaya Jawa. Destinasi ini cocok bagi wisatawan yang ingin menggabungkan wisata alam dengan wisata budaya.
Pilihan berikutnya adalah Bunker Kaliadem. Kawasan ini berada di lereng Merapi dan menawarkan suasana khas pegunungan. Jika cuaca mendukung, wisatawan dapat menikmati panorama Gunung Merapi dari kawasan tersebut.
Wisatawan juga dapat memasukkan The Lost World Castle ke dalam rute perjalanan. Lokasinya masih berada di kawasan lereng Merapi sehingga dapat menjadi bagian dari perjalanan menjelajahi sisi utara Sleman.
Untuk perjalanan yang lebih santai bersama keluarga, kawasan Kaliurang menawarkan sejumlah pilihan wisata, kuliner, dan tempat untuk menikmati udara sejuk.
Jika ingin tetap berada di sekitar jalur Magelang, perjalanan dapat dilanjutkan menuju beberapa destinasi lain di Sleman atau Magelang. Dengan demikian, perjalanan sehari dapat dibuat menjadi rangkaian wisata alam dari Tempel menuju kawasan Merapi.
Waktu Terbaik Untuk Berkunjung
Waktu kunjungan sangat berpengaruh terhadap pengalaman di Grojogan Watu Purbo. Debit air biasanya lebih besar pada musim penghujan sehingga bentuk air terjun bertingkat terlihat lebih jelas. Namun, bukan berarti wisatawan harus datang ketika hujan turun deras.
Ketika curah hujan sangat tinggi, kondisi sungai justru perlu diwaspadai. Wisatawan sebaiknya menghindari berkunjung ketika hujan deras berlangsung atau ketika terdapat peringatan mengenai kondisi Merapi dan aliran sungai.
Sebaliknya, musim kemarau panjang dapat membuat debit air berkurang cukup signifikan. Informasi dari Kalurahan Merdikorejo menyebutkan debit air dapat berkurang sekitar 60 persen ketika kemarau panjang.
Pagi hari menjadi salah satu waktu yang nyaman untuk berkunjung. Udara masih relatif sejuk dan cahaya matahari dapat memberikan efek menarik pada aliran air. Sore hari juga dapat menjadi pilihan, terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana lebih teduh.
Jam operasional yang tercatat pada informasi bisnis saat ini adalah sekitar pukul 07.00–17.00 pada sebagian besar hari, dengan waktu tutup sedikit lebih sore pada akhir pekan. Karena jadwal dapat berubah, pengecekan sebelum berangkat tetap disarankan. Grojogan Watu Purbo
Tips Berkunjung Ke Grojogan Watu Purbo
Ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan sebelum mengunjungi destinasi ini.
Pertama, gunakan alas kaki yang nyaman dan memiliki daya cengkeram baik. Area di sekitar air dapat menjadi licin, terutama setelah hujan.
Kedua, jika ingin bermain air, bawalah pakaian ganti. Namun, jangan terlalu dekat dengan aliran yang deras dan selalu perhatikan arahan pengelola.
Ketiga, bawa perlindungan dari matahari seperti topi dan sunblock jika datang pada siang hari. Air minum juga sebaiknya disiapkan untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.
Keempat, siapkan kamera atau ponsel jika ingin mengabadikan keindahan grojogan. Akan tetapi, hindari mengambil foto dengan berdiri di lokasi yang berbahaya hanya demi mendapatkan sudut tertentu.
Terakhir, jangan membuang sampah sembarangan. Grojogan Watu Purbo merupakan destinasi yang tumbuh dari inisiatif masyarakat sehingga menjaga kebersihan berarti ikut mendukung keberlanjutan wisata lokal.
Grojogan Watu Purbo, Wisata Alam Dengan Cerita Berbeda
Wisata yang satu ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari air terjun pada umumnya. Keindahannya bukan hanya berasal dari alam, tetapi juga dari hasil rekayasa manusia yang awalnya dibuat untuk melindungi masyarakat dari ancaman aliran lahar Merapi.
Enam tingkat sabo dam yang dahulu berfungsi sebagai infrastruktur pengendalian bencana kini berubah menjadi daya tarik wisata. Ditambah bebatuan besar, panorama Merapi, taman, gazebo, serta suasana pedesaan, tempat ini cocok menjadi tujuan wisata singkat di kawasan Sleman.
Bagi wisatawan yang datang dari Surabaya, perjalanan menuju Grojogan Watu Purbo juga dapat dikembangkan menjadi perjalanan wisata Yogyakarta yang lebih lengkap. Setelah menikmati grojogan, perjalanan dapat diteruskan menuju kawasan Kaliurang, Museum Ullen Sentalu, Bunker Kaliadem, atau destinasi lain di lereng Merapi.
Untuk perjalanan dari Surabaya dengan keluarga atau rombongan, sewa mobil Surabaya dengan sopir dapat menjadi pilihan yang praktis. Perjalanan jarak jauh menuju Yogyakarta membutuhkan waktu cukup panjang, sehingga adanya pengemudi memungkinkan penumpang lebih leluasa beristirahat selama perjalanan. Sopir juga dapat membantu mengatur perjalanan menuju beberapa destinasi dalam satu rute sehingga wisatawan tidak perlu terus berkonsentrasi mencari jalan.
Silakan hubungi marketing Putera Mentari untuk informasi dan reservasi, melalui telepon dan WhatsApp dinomer 0821 2248 2134.
Dengan kendaraan yang nyaman dan rute yang direncanakan sejak awal, perjalanan menuju Grojogan Watu Purbo dapat menjadi bagian dari liburan yang lebih menyenangkan. Tidak hanya mendapatkan pemandangan air terjun bertingkat yang unik, wisatawan juga dapat memahami cerita di balik terbentuknya destinasi tersebut serta menjelajahi berbagai potensi wisata di kawasan Sleman dan lereng Merapi.
