Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan perjalanan sejarah yang panjang. Jejak masa lalu tersebut tidak hanya tersimpan dalam museum atau monumen, tetapi juga dapat ditemukan melalui bangunan-bangunan lawas yang masih berdiri hingga sekarang. Deretan gedung dengan arsitektur kolonial, kawasan perdagangan lama, jalan bersejarah, hingga bangunan yang menjadi saksi berbagai peristiwa penting membuat Surabaya memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang menyukai wisata heritage.
Salah satu kawasan yang paling menarik untuk dikunjungi adalah Kota Lama Surabaya. Kawasan ini telah ditata dan dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dengan beberapa zona yang mencerminkan keberagaman budaya Surabaya, yaitu zona Eropa, Pecinan, Arab, dan Melayu. Pemerintah Kota Surabaya melakukan revitalisasi untuk menghidupkan kembali suasana tempo dulu sekaligus mempertahankan bangunan cagar budaya yang ada di dalamnya.
Berkunjung ke kawasan bangunan lawas Surabaya bukan sekadar mencari tempat berfoto. Setiap gedung memiliki cerita, fungsi, dan karakter arsitektur yang berbeda. Dengan berjalan kaki atau menyusun rute yang tepat, wisatawan dapat menikmati perjalanan menyusuri sisi lama Kota Surabaya sekaligus mengenal sejarah perkembangan kota. Putera Mentari Rent Car menjabarkannya untuk Anda.
Kota Lama Surabaya Dan Daya Tariknya
Kota Lama Surabaya menjadi salah satu tempat yang paling tepat untuk memulai perjalanan wisata bangunan lawas. Kawasan ini mencakup sejumlah ruas jalan dan bangunan bersejarah, termasuk kawasan sekitar Jalan Rajawali, Jembatan Merah, Jalan Kalimas Barat, Jalan Kembang Jepun, serta beberapa kawasan lain di sekitarnya. Data cagar budaya Pemerintah Kota Surabaya mencatat kawasan Kota Lama sebagai kawasan cagar budaya yang memiliki karakter arsitektur bersejarah.
Setelah melalui proses penataan, suasana kawasan ini semakin nyaman untuk dikunjungi. Jalan dan area pedestrian ditata, sejumlah bangunan cagar budaya diperbaiki tampilannya, dan kawasan tersebut dikembangkan sebagai destinasi wisata heritage.
Daya tarik utamanya adalah suasana yang berbeda dari kawasan Surabaya modern. Di tengah perkembangan gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan jalan raya yang padat, wisatawan dapat menemukan deretan bangunan lama dengan bentuk fasad yang khas.
Kawasan Kota Lama juga memiliki nilai sejarah karena sejak masa lalu menjadi salah satu pusat kegiatan perdagangan dan interaksi berbagai kelompok masyarakat. Pembagian zona Eropa, Pecinan, Arab, dan Melayu menunjukkan bagaimana beragam komunitas turut membentuk perkembangan Kota Surabaya.
Gedung Internatio, Bangunan Bersejarah Di Jantung Kota Lama
Salah satu bangunan yang paling mudah dikenali ketika mengunjungi Kota Lama adalah Gedung Internatio. Bangunan ini berada di kawasan Jalan Taman Jayengrono, tidak jauh dari Jembatan Merah.
Gedung Internatio atau Internationale Crediten Handelvereeniging didirikan mulai 1927 dan pembangunannya selesai pada 1931. Bangunan tersebut dirancang oleh arsitek Frans Johan Louwrens Ghijsels dan pada awalnya digunakan untuk kegiatan perdagangan serta menarik investasi di Hindia Belanda.
Arsitekturnya menjadi salah satu alasan bangunan ini menarik untuk dilihat. Bentuk bangunan yang megah dan memiliki karakter arsitektur Eropa membuatnya mudah dikenali di antara lingkungan sekitarnya.
Kawasan di depan Gedung Internatio juga menjadi salah satu titik yang ramai dikunjungi setelah revitalisasi Kota Lama. Pemerintah Kota Surabaya bahkan menyiapkan sejumlah aktivitas wisata di kawasan tersebut, termasuk paket berkeliling menggunakan Jeep kuno, penyewaan pakaian bertema Eropa, serta sepeda listrik.
Bagi penggemar fotografi, area sekitar gedung dapat menjadi salah satu lokasi yang menarik untuk mengabadikan suasana Surabaya tempo dulu.
Jalan Rajawali Dan Deretan Bangunan Lawas
Jalan Rajawali merupakan bagian penting dari kawasan Kota Lama zona Eropa. Ruas jalan ini menjadi salah satu lokasi yang memperlihatkan bagaimana wajah kawasan perdagangan Surabaya pada masa lalu.
Beberapa bangunan lama masih berdiri di sepanjang kawasan ini dengan fasad yang mempertahankan karakter arsitektur masa lalu. Setelah kawasan Kota Lama ditata, Jalan Rajawali juga menjadi ruang yang lebih menarik untuk berjalan kaki dan menikmati bangunan dari dekat.
Salah satu bangunan cagar budaya yang berada di kawasan ini adalah gedung PTPN di Jalan Rajawali 29. Bangunan tersebut dahulu merupakan kantor sindikat gula Jawa Timur dan pembangunannya dimulai pada 1917 sebelum selesai pada 1925 setelah melalui sejumlah kendala. Bangunan tersebut dirancang dengan karakter arsitektur yang memperlihatkan bentuk bukaan dan jendela khas masa tersebut.
Berjalan menyusuri Jalan Rajawali pada sore hari dapat menjadi pilihan yang menarik. Cahaya matahari yang mulai lebih lembut membuat bentuk fasad bangunan terlihat semakin menonjol. Kawasan ini juga dapat menjadi bagian dari rute wisata sejarah yang menghubungkan beberapa bangunan penting di Kota Lama.
Jembatan Merah, Ikon Sejarah Surabaya
Tidak jauh dari Kota Lama terdapat Jembatan Merah yang juga menjadi salah satu landmark bersejarah Surabaya. Keberadaannya berkaitan erat dengan perkembangan kawasan perdagangan dan sejarah perjuangan Kota Surabaya.
Red Bridge menjadi salah satu titik yang dapat dimasukkan dalam rute wisata heritage. Lokasinya berdekatan dengan sejumlah bangunan tua sehingga wisatawan dapat mengunjungi beberapa tempat sekaligus tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Jembatan Merah juga cocok dijadikan titik transisi ketika wisatawan berpindah dari kawasan bangunan lawas zona Eropa menuju kawasan perdagangan lama di sekitarnya.
Jalan Gula Dan Nuansa Surabaya Tempo Dulu
Jika ingin menemukan suasana yang lebih khas, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Jalan Gula. Kawasan ini dikenal dengan keberadaan bangunan lama yang memberikan nuansa klasik.
Gula St berada di kawasan Bongkaran, Pabean Cantikan. Lingkungan sekitarnya memiliki karakter yang berbeda dibandingkan pusat kota modern Surabaya.
Jalan Gula juga menarik bagi wisatawan yang gemar fotografi arsitektur. Dinding bangunan lama, pintu, jendela, serta tekstur bangunan yang telah berusia puluhan tahun dapat menjadi objek foto yang menarik.
Namun, wisatawan tetap perlu memperhatikan aktivitas masyarakat setempat. Sebagian kawasan bangunan lawas masih digunakan untuk aktivitas perdagangan dan kehidupan sehari-hari. Karena itu, wisatawan sebaiknya menjaga sikap dan tidak mengganggu aktivitas warga ketika mengambil gambar.
Kembang Jepun Dan Kawasan Pecinan
Perjalanan menyusuri bangunan lawas Surabaya belum lengkap tanpa memasukkan kawasan Kembang Jepun. Kawasan ini memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat perdagangan dan kawasan Pecinan di Surabaya.
Pemerintah Kota Surabaya mengembangkan kawasan Kota Lama dengan membagi karakter kawasan berdasarkan sejarah komunitas yang berkembang di dalamnya. Kembang Jepun menjadi salah satu bagian penting dari zona Pecinan, sementara kawasan Arab dan Melayu juga memperlihatkan jejak interaksi budaya yang berkembang sejak masa lalu.
Selain bangunan lama, kawasan Kembang Jepun juga menarik karena memiliki suasana perdagangan yang khas. Wisatawan dapat menggabungkan wisata sejarah dengan wisata kuliner karena terdapat berbagai pilihan makanan di sekitar kawasan tersebut.
Hotel Majapahit, Bangunan Lawas Di Jalan Tunjungan
Selain Kota Lama, salah satu bangunan lawas paling terkenal di Surabaya adalah Hotel Majapahit yang berada di Jalan Tunjungan.
Hotel Majapahit Surabaya merupakan salah satu bangunan ikonik di pusat kota. Bangunan ini memiliki sejarah panjang sejak awal abad ke-20. Pemerintah Kota Surabaya mencatat bangunan tersebut dibangun pada 1 Juni 1910 oleh keluarga Sarkies dan memiliki kaitan erat dengan sejarah perjuangan Surabaya.
Hotel ini juga dikenal karena peristiwa 19 September 1945, ketika terjadi insiden perobekan bagian biru bendera Belanda yang kemudian menjadi salah satu simbol perjuangan arek-arek Surabaya.
Arsitektur kolonial yang masih dipertahankan membuat Hotel Majapahit menjadi salah satu bangunan yang menarik untuk diamati. Berbeda dengan kawasan Kota Lama yang dapat dijelajahi dengan berjalan kaki dari satu bangunan ke bangunan lain, Hotel Majapahit memberikan pengalaman melihat bangunan heritage yang hingga kini masih berfungsi sebagai hotel.
Wisatawan yang berkunjung sebaiknya tetap memperhatikan aturan dan area yang dapat diakses oleh pengunjung karena hotel merupakan properti yang masih beroperasi.
Waktu Terbaik Menjelajahi Bangunan Lawas Surabaya
Pagi dan sore hari merupakan waktu yang relatif nyaman untuk wisata heritage. Jika ingin berjalan kaki dan berfoto, sore hari dapat menjadi pilihan menarik karena cuaca biasanya lebih bersahabat dibandingkan siang.
Sementara itu, pagi hari cocok bagi wisatawan yang ingin menghindari keramaian sekaligus mendapatkan pencahayaan alami yang baik untuk fotografi.
Pada malam hari, beberapa kawasan juga memiliki suasana yang berbeda. Lampu jalan dan pencahayaan bangunan dapat memberikan karakter tersendiri. Namun, wisatawan tetap perlu menyesuaikan waktu kunjungan dengan kondisi kawasan dan aktivitas yang tersedia.
Rute Wisata Bangunan Lawas Surabaya
Wisatawan dari luar kota dapat membuat rute sederhana untuk mengunjungi beberapa bangunan lawas dalam satu perjalanan.
Jika berangkat dari pusat Surabaya, perjalanan dapat dimulai dari kawasan Tunjungan dengan mengunjungi Hotel Majapahit. Setelah itu, perjalanan dapat dilanjutkan menuju kawasan Kota Lama melalui Jalan Rajawali dan Gedung Internatio.
Dari Gedung Internatio, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Merah, kemudian menuju kawasan Jalan Gula dan Kembang Jepun. Rute tersebut memungkinkan wisatawan melihat beberapa karakter kawasan bersejarah dalam satu agenda.
Bagi wisatawan yang datang dari Bandara Juanda, perjalanan dapat diarahkan menuju pusat Kota Surabaya terlebih dahulu. Setelah itu, agenda dapat dilanjutkan menuju Tunjungan dan kawasan Kota Lama. Waktu perjalanan tentu bergantung pada kondisi lalu lintas sehingga sebaiknya menyediakan waktu lebih longgar, terutama jika perjalanan dilakukan pada akhir pekan.
Kuliner Yang Bisa Diselipkan Dalam Perjalanan
Wisata heritage akan terasa semakin lengkap jika diselingi kuliner khas Surabaya. Setelah menjelajahi Kota Lama, wisatawan dapat mencari makanan tradisional di kawasan sekitar Kembang Jepun, Pabean, atau pusat kota.
Salah satu kelebihan rute wisata bangunan lawas adalah banyaknya pilihan kuliner yang berada tidak terlalu jauh dari lokasi wisata. Wisatawan tidak harus keluar jauh dari pusat kota hanya untuk mencari tempat makan.
Agenda dapat dibuat dengan sarapan atau makan siang terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan wisata heritage. Alternatif lainnya adalah menikmati kuliner pada sore atau malam hari setelah menyelesaikan rute bangunan lawas.
Tips Berwisata Ke Kawasan Bangunan Lawas
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mengunjungi kawasan heritage Surabaya. Pertama, gunakan pakaian yang nyaman karena sebagian rute akan lebih menyenangkan jika dijelajahi dengan berjalan kaki.
Kedua, gunakan alas kaki yang nyaman. Meskipun jarak antarlokasi terlihat dekat, wisatawan dapat cukup banyak berjalan ketika berpindah dari satu bangunan ke bangunan lainnya.
Ketiga, jangan hanya berfoto. Luangkan waktu untuk membaca informasi sejarah yang tersedia agar perjalanan menjadi lebih bermakna.
Keempat, perhatikan batas area ketika mengunjungi bangunan yang masih digunakan untuk aktivitas bisnis atau tempat tinggal. Tidak semua bangunan lawas dapat dimasuki secara bebas.
Kelima, hindari menyentuh atau merusak bagian bangunan. Bangunan tua merupakan bagian dari warisan sejarah yang perlu dijaga bersama.
Menjelajahi Surabaya Dengan Lebih Nyaman
Menjelajahi bangunan lawas Surabaya sebenarnya dapat dilakukan dalam satu hari, terutama jika rute telah disusun dengan baik. Namun, bagi wisatawan yang datang dari luar kota, perjalanan akan lebih praktis jika tidak perlu memikirkan urusan mengemudi dan mencari jalan di setiap lokasi.
Dalam kondisi seperti ini, sewa mobil Surabaya dengan sopir dapat menjadi pilihan yang cukup nyaman. Wisatawan dapat menentukan rute, misalnya dari Bandara Juanda menuju Hotel Majapahit, kemudian Tunjungan, Kota Lama, Gedung Internatio, Jembatan Merah, Jalan Gula, hingga Kembang Jepun.
Dengan adanya sopir, waktu perjalanan antarlokasi dapat dimanfaatkan untuk beristirahat atau mempersiapkan agenda berikutnya. Hal ini juga membantu ketika perjalanan dilakukan bersama keluarga atau rombongan yang ingin mengunjungi beberapa tempat sekaligus. Silakan hubungi marketing Putera Mentari untuk informasi dan reservasi, melalui telepon dan WhatsApp dinomer 0821 2248 2134.
Pada akhirnya, wisata bangunan lawas menawarkan cara berbeda untuk mengenal Surabaya. Kota ini tidak hanya tentang gedung modern dan pusat perbelanjaan, tetapi juga menyimpan jejak panjang perdagangan, keberagaman budaya, arsitektur kolonial, dan perjuangan kemerdekaan. Menyusuri Kota Lama, melihat Gedung Internatio, melewati Jembatan Merah, menikmati suasana Jalan Gula, hingga mengunjungi kawasan Tunjungan dapat menjadi perjalanan yang mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam satu rute.
Dengan perencanaan perjalanan yang tepat, wisata heritage Surabaya dapat menjadi agenda yang menarik, edukatif, sekaligus cocok untuk mengisi waktu liburan bersama keluarga maupun rombongan.
